Saturday, November 17, 2018

TIKETQQ - Keinginan untuk memperindah setiap detail bagian tubuh tak hanya dialami para wanita zaman sekarang. Lelaki kini pun mulai berlomba-lomba untuk memiliki bentuk dan ukuran tubuh yang dianggap ideal oleh masyarakat, termasuk juga untuk ukuran alat vitalnya. Jika di Indonesia sudah lama dikenal terapi atau pijat untuk membesarkan Mr P, sampai-sampai muncul nama-nama yang legendaris, maka di belahan dunia lainnya muncul inovasi tren filler penis di kalangan pria.
Tren yang sedang naik daun ini diklaim mampu menambah ukuran Mr P. Hanya dengan melakukan suntik filler di organ intim, para pria yang merasa minder dengan ukuran simbol kejantanannya tak perlu melakukan operasi invasif. Filler penis dilakukan dengan menyuntikan asam hyluronic atau cairan lain dalam jaringan lunak di bawah kulit kelamin. Prosedur filler penis ini hanya butuh beberapa jam dengan biaya sekitar 5.400 dolar per sesi atau sekitar Rp 58 juta, dengan efek yang akan bertahan hingga 18 bulan.
Dokter bedah kecantikan dari Australia, Dr Gavin Scriven, mengaku secara pribadi telah melihat peningkatan jumlah peminat filler penis dalam lima tahun terakhir. "Mungkin mendapatkan operasi kecantikan bagi pria tidak sepopuler untuk wanita. Tetapi makin lama hal itu menjadi lebih umum dan kurang tabu," kata Dr Scriven.
BANDARQ - Meski mampu menambah kepercayaan diri pria akan simbol kejantanannya, prosedur ini sebenarnya memiliki resiko. Dokter Asif Muneer dari British Association of Urological Surgeons menyatakan tren kecantikan ini sangat berbahaya dan tidak disarankan. "Semua prosedur pembesaran alat kelamin ini untuk meningkatkan lingkar penis, dan itu tidak akan bermanfaat pada panjang ereksi," ucapnya. Secara fungsional, kata Muneer, filler penis tak akan memperbaiki masalah. Justru akan menimbulkan komplikasi yang merusak fungsi seksual pria.
Sependapat dengan Muneer, Dr. Ross Perry, pakar kosmetik dari Amerika, berkata filler penis mengandung resiko yang besar. Menurutnya, prosedur tersebut menyebabkan efek samping yang serius seperti memar yang menyakitkan, pembengkakan dan potensi infeksi atau jaringan parut. "Efek samping potensial lainnya adalah disfungsi ereksi karena penyumbatan pembuluh darah," ucapnya. Dr Perry juga menolak para pasiennya untuk melakukan prosedur ini karena resikonya yang tinggi. Menurutnya, filler penis hanya menambah ketebalan dan lebar organ vital pria, bukan panjangnya. Untuk itu, sebelum memutuskan melakukan filler penis, para pria harus memikirkannya dengan matang.
Tren yang sedang naik daun ini diklaim mampu menambah ukuran Mr P. Hanya dengan melakukan suntik filler di organ intim, para pria yang merasa minder dengan ukuran simbol kejantanannya tak perlu melakukan operasi invasif. Filler penis dilakukan dengan menyuntikan asam hyluronic atau cairan lain dalam jaringan lunak di bawah kulit kelamin. Prosedur filler penis ini hanya butuh beberapa jam dengan biaya sekitar 5.400 dolar per sesi atau sekitar Rp 58 juta, dengan efek yang akan bertahan hingga 18 bulan.
Dokter bedah kecantikan dari Australia, Dr Gavin Scriven, mengaku secara pribadi telah melihat peningkatan jumlah peminat filler penis dalam lima tahun terakhir. "Mungkin mendapatkan operasi kecantikan bagi pria tidak sepopuler untuk wanita. Tetapi makin lama hal itu menjadi lebih umum dan kurang tabu," kata Dr Scriven.
BANDARQ - Meski mampu menambah kepercayaan diri pria akan simbol kejantanannya, prosedur ini sebenarnya memiliki resiko. Dokter Asif Muneer dari British Association of Urological Surgeons menyatakan tren kecantikan ini sangat berbahaya dan tidak disarankan. "Semua prosedur pembesaran alat kelamin ini untuk meningkatkan lingkar penis, dan itu tidak akan bermanfaat pada panjang ereksi," ucapnya. Secara fungsional, kata Muneer, filler penis tak akan memperbaiki masalah. Justru akan menimbulkan komplikasi yang merusak fungsi seksual pria.
Sependapat dengan Muneer, Dr. Ross Perry, pakar kosmetik dari Amerika, berkata filler penis mengandung resiko yang besar. Menurutnya, prosedur tersebut menyebabkan efek samping yang serius seperti memar yang menyakitkan, pembengkakan dan potensi infeksi atau jaringan parut. "Efek samping potensial lainnya adalah disfungsi ereksi karena penyumbatan pembuluh darah," ucapnya. Dr Perry juga menolak para pasiennya untuk melakukan prosedur ini karena resikonya yang tinggi. Menurutnya, filler penis hanya menambah ketebalan dan lebar organ vital pria, bukan panjangnya. Untuk itu, sebelum memutuskan melakukan filler penis, para pria harus memikirkannya dengan matang.

